Tulis menulis ini akan menjadi yang pertama dalam usaha saya bercerita melalui huruf dan kata. Saya seorang remaja usia 16 tahun yang masih sangat labil dalam membuat banyak keputusan. Dapat dikatakan, I am a teen who still looking for the purpose of my life. Menjadi seorang remaja di tengah dunia yang sedang berkembang pesat dan semakin menua ini bisa dibilang berat. Kita dihadapkan dengan berjuta pilihan, yang tentu saja pilihan yang kita ambil akan sangat menentukan arah hidup kita kedepanya.
Saya mengalami berbagai hal yang membuat saya berpikir, sebenarnya berlandaskan apa saya harus hidup. Saya pernah merasakan kegelisahan, kesedihan, ratapan, putus asa. Begitu juga saya pernah merasakan senang, bangga, bebas. Tapi apakah itu yang sebenarnya saya cari?. Apakah sepanjang hidup saya, saya akan menghabiskan waktu saya untuk menemukan kesenangan baru, untuk menyelesaikan kesedihan, untuk mendapatkan kebanggan, untuk melawan kegelisahan dan terus begitu.
Saya sendiri tidak yakin, jika dengan menjalani hidup seperti itu akan mampu membuat saya bertahan pada hal-hal yang benar. Apa yang menjamin saya tidak akan meleset ke jurang saat dalam pencarian kesenangan. Apa yang menjamin saya akan mempertahankan hidup saya jika saya berhadapan dengan kepedihan. Tidak ada. Pada akhirnya saya bahkan tidak bisa meyakinkan diri saya untuk terus menjalani kehidupan yang tanpa makna ini. kecuali jika saya berhasil menemukan untuk apa kehidupan ini dijalani. Jika saya menemukan alasan kuat untuk melewati kesulitan, jika saya memiliki tanggung jawab dalam memilih kebahagiaan seperti apa yang saya ambil.
Saya bisa saja melakukan hal-hal baik untuk orang lain, namun untuk apa?. Memang kita seharusnya tidak memiliki alasan untuk berbuat baik, tapi bagaimana jika niat baik kita berakibat buruk, bagaimana jika harapan kita tidak tercapai, bagaimana jika kebaikan kita ini sia-sia. Omong kosong jika dikatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang sia-sia, karena justru sebagian besar dari isi dunia ini hanyalah sia-sia belaka. Kita bahagia hanya untuk mengalami sedih selanjutnya, kita berjuang hanya untuk kata gagal selanjutnya, bahkan jikapun kita berhasil, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Usai? Mencapai happy ending? Selesai?. Tidak, tidak akan pernah selesai.
Buktinya banyak sekali orang-orang yang dianggap berhasil di hidupnya yang berakhir dengan bunuh diri. Lalu apa yang dimaksud dengan berhasil itu?, bukankah kematian itu sendiri merupakan bentuk kesia-sia an dari hidup. Apa yang harus saya lakukan jika perbuatanku tidak berbuah apapun? Apa yang harus saya lakukan jika usahaku tidak mencapai kata berhasil? Apa yang harus saya lakukan jika rencana saya berantakan? Jika saya tidak meraih tujuan saya?. Terlalu berisiko dan tidak berguna jika kehidupan memang hanya seperti itu, orang waras manapun seharusnya tidak ada yang mau menghabiskan waktunya untuk bersia-sia di dunia ini.
Namun pada akhirnya saya menemukan sesuatu, saya menemukan apa yang memang seharusnya saya cari sejak awal. Bahwa ternyata masih ada pilihan lain selain kesia-siaan dalam hidup ini. seharusnya sejak awal saya tau memang ada potensi manusia yang harus dipenuhi, potensi untuk menghamba, untuk menyembah, untuk berserah. Tidak akan ada nalar yang sampai untuk menjawab segala pertanyaan di dunia ini. karena itu seharusnya kita sadar bahwa ada Dzat yang mengatur segalanya, yang menjadikan kesia-siaan itu menjadi suatu hal yang bernilai.
Pada akhirnya saya menemukan alasan untuk apa saya bertahan melewati kesulitan, untuk memastikan bahwa kebahagiaan yang saya pilih bukanlah kebahagiaan fana. Keyakinan menjadi jaminan bahwa saya tidak akan berlaku bodoh hanya semata mencari kesenangan fana, keyakinan menjadi jaminan bahwa saya tidak akan mengakhiri hidup ini hanya karena sedikit ujian. Lalu saya tahu bahwa setiap hal yang saya lakukan, sekecil apapun kebaikan yang saya bagikan itu tidak akan menjadi sia-sia. Jikapun pada akhirnya kebaikan saya tidak berbalas baik, atau ternyata kebaikan saya justru berakhir buruk, akan selalu ada yang memperhitungkan apa yang sudah saya usahakan.
Jika pada akhirnya harapan saya tidak terwujud, tujuan saya tidak berhasil, setiap usaha yang telah saya lakukan akan bernilai dan kegagalan saya akan tergantikan dengan jalan terbaik yang memang seharusnya saya dapatkan. Kesenangan dan kesedihan yang terus berulang akan memiliki makna jika kesenangan yang saya dapatkan merupakan hasil dari ikhtiar yang saya lakukan, dan kesedihan yang saya alami merupakan sebuah proses perubahan menjadi seorang hamba yang lebih baik, yang paling penting saya ketahui bahwa kesedihan yang saya alami akan bernilai.
Jika saya tidak mecapai kata berhasil, jika saya berulang kali mengalami kegagalan, kepedihan, rencana yang tidak berjalan semestinya. Saya tahu bahwa saya selalu memiliki tempat untuk mengadu, memiliki tempat untuk bersandar, dan memiliki alasan untuk kembali menguatkan diri demi sebuah tujuan. Fakta bahwa saya tidak akan pernah sendiri dalam menghadapi hal-hal berat. Jika pada akhirnya saya mendapatkan tujuanku, mewujudkan harapanku, dan merasa seolah berhasil. Saya akan tahu bahwa itu semua bukan karena diri saya sendiri, namun atas izin-Nya. Hal itu yang akan membuat saya tidak akan merasa puas terhadap kehidupan, karena saya tahu ini hanya pencapaian sementara, saya tahu apa yang harus aku lakukan dengan pencapaian ini, yaitu dengan melakukan kebaikan lain untuk mencapai pencapaian yang sebenarnya, pencapaian yang abadi.
Pada akhirnya dengan menemukan bahwa tujuan akhir kita hanyalah akhirat, dan bahwa alasan hidup kita hanya untuk menjadi hamba terbaik yang diridhai Allah, akan menjadikan segalanya lebih masuk akal, akan menepis kesia-siaan yang selama ini saya bayangkan. Maka saat ini tujuan saya jelas, menjalani hidup sebaik-baiknya, berusaha memantaskan diri untuk menjadi orang yang dapat meraih pencapaian sejati, dan siap melakukan apapun untuk menjadi hamba terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar